JAKARTA — Kelompok Cipayung Plus menggelar pertemuan bersama Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Erick Thohir di Media Center Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), Senin (24/8/2026). Pertemuan tersebut membahas pengembangan talenta mahasiswa, penguatan nilai kebangsaan, serta peluang kolaborasi dalam membangun sumber daya manusia (SDM) generasi muda di tengah keterbatasan anggaran negara.
Dalam diskusi tersebut, Menpora Erick Thohir mengakui secara terbuka bahwa kebijakan efisiensi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) berdampak pada terbatasnya ruang pembinaan talenta dan penanaman nilai kebangsaan bagi mahasiswa.
Menurut Erick, keterbatasan anggaran juga membuat program Kemenpora saat ini lebih banyak diarahkan pada sektor olahraga. Sekitar 85 persen anggaran disebut berfokus pada bidang olahraga.
Menanggapi kondisi tersebut, Ketua Umum Pengurus Pusat Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (PP GMKI), Prima Surbakti menyampaikan bahwa Kelompok Cipayung Plus memiliki posisi strategis sebagai rumah mahasiswa sekaligus rumah kader. Organisasi-organisasi mahasiswa tersebut tidak hanya menjadi wadah pengembangan kapasitas, tetapi juga menjadi ruang pembangunan spiritual, pendidikan karakter, serta sekolah latihan untuk mempersiapkan calon pemimpin bangsa.
Kelompok Cipayung Plus yang terdiri dari 11 organisasi mahasiswa memiliki basis kader yang besar dan tersebar di berbagai daerah. Setiap tahun, organisasi-organisasi tersebut menerima anggota baru sekitar 300 ribu hingga 500 ribu orang atau sekitar 35 persen dari total mahasiswa setiap tahunnya.
Dengan distribusi kader yang merata dan latar belakang agama, budaya, sosial, serta ekonomi yang beragam, Kelompok Cipayung Plus dinilai memiliki potensi besar untuk menjadi mitra strategis pemerintah dalam pengembangan SDM generasi muda.
Dalam pertemuan itu juga disoroti persoalan ketergantungan pemerintah daerah terhadap pemerintah pusat. Ketergantungan APBD terhadap transfer dari pemerintah pusat dinilai turut memengaruhi kemampuan daerah dalam membiayai pembangunan, pengembangan SDM, infrastruktur, serta berbagai kebutuhan belanja lainnya.
Salah satu faktor yang perlu mendapat perhatian, menurut Prima Surbakti, adalah belum optimalnya kemampuan dan kemauan anak muda untuk membuka serta mengembangkan gerakan ekonomi berbasis potensi daerah.
APBN, lanjut Prima, harus tetap diposisikan sebagai instrumen untuk melindungi rakyat dan membangun manusia Indonesia, khususnya generasi muda. Namun, keterbatasan anggaran tidak seharusnya menjadi hambatan utama dalam pengembangan SDM mahasiswa.
Karena itu, GMKI mendorong Menpora untuk membangun kolaborasi lintas sektor dengan berbagai institusi, baik lembaga negara, mitra internasional maupun sektor swasta. Kolaborasi tersebut dinilai dapat menjadi alternatif untuk memperluas program pengembangan mahasiswa tanpa sepenuhnya bergantung pada APBN.
Dengan ekosistem Kelompok Cipayung Plus yang besar, pengembangan talenta mahasiswa dapat dilakukan secara sistematis melalui pemetaan potensi, pelatihan, pemberdayaan, penguatan soft skill, penanaman ideologi dan nilai-nilai kebangsaan, hingga pemberian akses terhadap pengembangan gerakan ekonomi dan jejaring global.
Pendekatan tersebut diharapkan mampu mengubah organisasi mahasiswa bukan hanya sebagai ruang kaderisasi, tetapi juga sebagai ekosistem pengembangan talenta dan kepemimpinan generasi muda Indonesia.
Dalam kesempatan yang sama, GMKI turut memperkenalkan Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) yang memiliki dan mengelola tim basket profesional, Satya Wacana Salatiga (SWS), yang berkompetisi di Indonesia Basketball League (IBL).
Meski menghadapi berbagai keterbatasan, termasuk infrastruktur olahraga seperti sport center, tim SWS dinilai mampu menunjukkan semangat dan konsistensi dalam pembinaan serta pengembangan prestasi hingga menjadi salah satu tim basket yang diperhitungkan di Indonesia.
Erick Thohir menyambut positif informasi mengenai tim basket Satya Wacana Salatiga tersebut. Menpora bahkan menyatakan ketertarikannya dan berjanji untuk berkunjung ke kampus UKSW.
Pertemuan Kelompok Cipayung Plus bersama Menpora Erick Thohir tersebut diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat kolaborasi antara pemerintah dan organisasi mahasiswa dalam membangun SDM unggul, memperkuat karakter kebangsaan, serta membuka ruang yang lebih luas bagi generasi muda untuk berkontribusi terhadap pembangunan Indonesia.