81 Tahun Indonesia Merdeka: Pendidikan STEM sebagai Pilar Kemajuan Bangsa
Halaman Statis

81 Tahun Indonesia Merdeka: Pendidikan STEM sebagai Pilar Kemajuan Bangsa

Oleh: Bintang Arthur — Mahasiswa Kota Medan

 

Menjelang 17 Agustus 2026, Indonesia akan memasuki usia 81 tahun kemerdekaan. Delapan dekade lebih perjalanan bangsa telah membawa banyak perubahan, mulai dari mempertahankan kedaulatan hingga memasuki era kecerdasan buatan, robotika, energi terbarukan, dan teknologi digital. Namun, di tengah perkembangan dunia yang semakin cepat, satu pertanyaan penting perlu kita renungkan: sudah sejauh mana Indonesia merdeka dalam ilmu pengetahuan dan teknologi?

 

Kemerdekaan abad ke-21 tidak hanya berarti bebas dari penjajahan fisik, tetapi juga kemampuan bangsa untuk menciptakan pengetahuan, membangun teknologi, dan menghasilkan inovasi. Karena itu, pendidikan Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) harus menjadi fondasi penting dalam menyiapkan generasi Indonesia yang mampu berpikir kritis, kreatif, dan mampu menyelesaikan persoalan bangsa.

 

Namun, tantangan STEM Indonesia masih besar. Berdasarkan PISA 2022 OECD, skor matematika Indonesia berada pada angka 366 dan sains 383, masih di bawah rata-rata OECD yang mencapai 472 untuk matematika dan 485 untuk sains. Sebagai pembanding, Singapura mencatat skor matematika 575 dan sains 561, sementara Jepang dan Korea Selatan juga berada jauh di atas Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa penguatan STEM harus dibangun sejak pendidikan dasar hingga perguruan tinggi.

 

Dari sisi riset, Indonesia juga masih menghadapi tantangan investasi. Data World Bank dan UNESCO menunjukkan pengeluaran penelitian dan pengembangan Indonesia sekitar 0,28 persen dari PDB berdasarkan data tersedia tahun 2020. Angka tersebut masih jauh dibanding Korea Selatan yang mendekati 5 persen dan Singapura sekitar 2 persen. Negara maju membuktikan bahwa riset adalah investasi utama untuk membangun kemandirian teknologi.

 

Dalam Global Innovation Index 2025, Indonesia berada pada peringkat ke-55 dari 139 ekonomi dunia. Posisi ini menunjukkan kemajuan, tetapi persaingan global semakin ketat. Korea Selatan berada di peringkat 4, Singapura 5, China 10, Jepang 12, Malaysia 34, Vietnam 44, Thailand 45, dan Filipina 50. Artinya, Indonesia sudah bergerak, tetapi harus bergerak lebih cepat.

 

Indonesia memiliki modal besar dengan 2.937 perguruan tinggi, sekitar 249 ribu dosen, dan lebih dari 8 juta mahasiswa berdasarkan data BPS 2024. Tantangannya adalah bagaimana mengubah kekuatan akademik tersebut menjadi inovasi yang berdampak nyata bagi masyarakat. Kampus tidak boleh hanya menghasilkan lulusan, tetapi harus menjadi pusat lahirnya teknologi, riset, dan solusi bagi persoalan bangsa.

 

Karena itu, pemerintah harus menghadirkan kebijakan yang kuat untuk mendukung perkembangan STEM melalui peningkatan anggaran riset, penguatan laboratorium, pengembangan talenta digital, dukungan bagi peneliti muda, serta kolaborasi antara perguruan tinggi dan industri. Pendidikan STEM tidak akan berkembang hanya melalui perubahan kurikulum, tetapi membutuhkan ekosistem yang menghubungkan pendidikan, penelitian, industri, dan masyarakat.

 

Berbagai program riset nasional dan kerja sama universitas dengan industri menjadi langkah positif. Namun keberhasilan STEM tidak cukup diukur dari jumlah publikasi atau fasilitas pendidikan, melainkan dari seberapa banyak penelitian yang mampu berubah menjadi teknologi, produk, industri, dan solusi yang bermanfaat.

 

Pada usia kemerdekaan ke-81, Indonesia perlu memperluas makna merdeka. Generasi terdahulu memperjuangkan kemerdekaan politik, sedangkan generasi hari ini memiliki tanggung jawab memperjuangkan kemerdekaan ilmu pengetahuan dan teknologi.

 

Masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh kekayaan alam, tetapi oleh kemampuan mengubah pengetahuan menjadi teknologi, teknologi menjadi industri, dan industri menjadi kesejahteraan. Pendidikan STEM menjadi salah satu kunci agar Indonesia tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu menjadi pencipta teknologi.

 

Delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka harus menjadi momentum untuk memperkuat sains, mempercepat inovasi, dan membangun generasi yang siap membawa Indonesia menjadi bangsa maju, mandiri, dan berdaya saing.

Jangan Ketinggalan
Pergerakan Kami.

Dapatkan rangkuman berita Suara Salemba langsung ke email atau WhatsApp setiap minggu.