Oleh: Jeremia Putra Lumbantobing
Energi sering kali baru terasa penting ketika ia tidak tersedia.
Ketika listrik padam, kita menyadari betapa bergantungnya kehidupan sehari-hari pada energi. Ketika distribusi bahan bakar mengalami gangguan, aktivitas transportasi dan perekonomian ikut terdampak. Di balik semua itu terdapat sebuah sistem energi yang panjang dan kompleks, mulai dari proses produksi, pengolahan, distribusi, hingga akhirnya energi tersebut sampai kepada masyarakat.
Karena itu, ketika berbicara mengenai ketahanan energi Indonesia, pembahasannya tidak dapat berhenti hanya pada persoalan listrik atau pembangkit energi terbarukan. Ketahanan energi juga mencakup bagaimana bahan bakar minyak disediakan dan disalurkan, bagaimana infrastruktur energi dikelola, bagaimana teknologi dimanfaatkan, serta bagaimana negara mempersiapkan sumber daya manusia untuk menghadapi perubahan energi di masa depan.
Pemikiran tersebut menjadi bagian penting dalam Diskusi Tematis yang diadakan Oleh BPC GMKI Medan Bidang Pendidikan Kader Masa Bakti 2026-2028 pada Jumat, 4 September 2026 bertajuk:
“Transformasi Digital dan Inovasi Energi Terbarukan: Peran Mahasiswa dalam Mewujudkan Ketahanan Energi Berkelanjutan Menuju Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur.”
Diskusi tersebut menghadirkan perspektif dari dunia akademik, industri, dan pemerintahan.
Hadir Dr. Ir. Wanapri Pangaribuan, MT, MM, IPM, ASEAN Eng, seorang akademisi sekaligus Senior GMKI; Fahrougi Andriani Sumampouw, Areal Manager Comreil & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut, yang pada kesempatan tersebut diwakili oleh Bang Ferry Fernando.
Saya sendiri, Jeremia Putra Lumbantobing, mendapat kesempatan untuk menjadi moderator dalam ruang diskusi tersebut.
Menariknya, pembahasan tidak hanya berfokus pada energi listrik dan energi terbarukan. Kami juga diajak melihat energi dari sisi yang lebih luas melalui pembahasan mengenai BBM, perjalanan energi dari hulu hingga hilir, proses penyaluran BBM, serta sejarah Pertamina Patra Niaga.
Dari sana, muncul satu kesadaran sederhana:
Energi Indonesia adalah sebuah ekosistem yang sangat besar.
Energi Tidak Berhenti pada Listrik
Saya sendiri sebagai mahasiswa Teknik Elektro, pembahasan mengenai energi tentu sering kali membawa kita pada pembahasan mengenai listrik. Kita belajar mengenai pembangkitan, transmisi, distribusi, sistem tenaga, beban, proteksi, hingga berbagai teknologi pembangkit.
Namun, diskusi ini membuka perspektif yang lebih luas.Energi yang menopang kehidupan masyarakat tidak hanya hadir dalam bentuk listrik. BBM juga memainkan peranan penting dalam mobilitas masyarakat dan aktivitas ekonomi.
Kendaraan yang mengantarkan manusia dari satu tempat ke tempat lain membutuhkan bahan bakar. Kendaraan logistik yang mendistribusikan barang membutuhkan energi. Berbagai aktivitas industri dan ekonomi juga memiliki ketergantungan terhadap energi. Artinya, ketika membicarakan ketahanan energi, kita perlu melihat hubungan antara berbagai bentuk energi tersebut secara menyeluruh.
Memahami BBM: Perjalanan Panjang dari Hulu hingga Hilir
Salah satu bagian menarik dari diskusi datang melalui pemaparan Bang Ferry Fernando, yang mewakili Bang Fahrougi Andriani dari Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut. Pembahasan mengenai BBM membawa peserta melihat bahwa bahan bakar yang kita gunakan sehari-hari bukanlah sesuatu yang tiba-tiba tersedia di SPBU.
Ada perjalanan panjang di baliknya. Mulai dari hulu, energi berasal dari proses eksplorasi dan produksi minyak. Selanjutnya, minyak mentah harus melalui proses pengolahan sebelum menjadi produk yang dapat digunakan oleh masyarakat.
Setelah itu, proses berlanjut ke penyimpanan dan distribusi, hingga akhirnya BBM dapat disalurkan ke berbagai wilayah dan sampai kepada konsumen di tingkat hilir.
Dengan kata lain, ketika seseorang datang ke SPBU dan mengisi bahan bakar kendaraannya, terdapat sebuah rantai pasok energi yang panjang di belakang aktivitas sederhana tersebut.
Pemahaman ini penting karena ketahanan energi bukan hanya tentang memiliki sumber daya, tetapi juga tentang kemampuan mengelola dan mendistribusikan energi secara efektif hingga sampai kepada masyarakat.
Mengenal Pertamina Patra Niaga dari Perspektif yang Lebih Dekat.
Pembahasan bersama Bang Ferry Fernando juga memberikan ruang bagi peserta untuk mengenal lebih jauh mengenai Pertamina Patra Niaga, termasuk perjalanan dan sejarah perusahaan tersebut.
Bagi sebagian masyarakat, Pertamina mungkin lebih sering dipahami melalui hal-hal yang terlihat secara langsung: SPBU, BBM, atau berbagai produk energi.
Padahal, di balik itu terdapat organisasi dan sistem operasional yang kompleks untuk memastikan kebutuhan energi masyarakat dapat terpenuhi.
Mengenal perjalanan Pertamina Patra Niaga menjadi penting bagi mahasiswa karena memberikan gambaran bahwa sektor energi bukan hanya ruang bagi para insinyur untuk menciptakan teknologi, tetapi juga membutuhkan manajemen, distribusi, pelayanan, keselamatan, inovasi, hingga pengelolaan sumber daya manusia.
Di sinilah mahasiswa dapat melihat bahwa dunia energi memiliki ruang kontribusi yang sangat luas.
Dari BBM Menuju Energi Masa Depan
Pembahasan mengenai BBM dan energi terbarukan sebenarnya tidak harus ditempatkan sebagai dua hal yang saling bertentangan.
Keduanya dapat dilihat sebagai bagian dari perjalanan transformasi energi Indonesia.
Saat ini masyarakat masih membutuhkan energi konvensional, sementara pada saat yang sama dunia terus mendorong pengembangan energi yang lebih berkelanjutan.
Transisi energi dengan demikian bukanlah persoalan mengubah sistem dalam satu malam.
Diperlukan proses, teknologi, infrastruktur, kebijakan, investasi, serta kesiapan manusia.
Dan di tengah proses tersebut, transformasi digital dapat menjadi salah satu instrumen penting.
Teknologi digital dapat membantu meningkatkan efisiensi pengelolaan energi, memantau distribusi, mengolah data, memprediksi kebutuhan, serta mendukung pengambilan keputusan.
Dengan demikian, masa depan energi Indonesia tidak hanya berbicara tentang energi apa yang digunakan, tetapi juga bagaimana energi tersebut dikelola secara lebih cerdas.
Energi Terbarukan dan Tantangan Sistem Kelistrikan.
Di sisi lain, diskusi juga membawa kita kepada persoalan energi listrik dan energi terbarukan. Indonesia memiliki potensi energi terbarukan yang besar. Namun, potensi tersebut membutuhkan inovasi agar dapat dimanfaatkan secara optimal. Pengembangan tenaga surya, tenaga air, panas bumi, biomassa, maupun sumber energi lainnya membutuhkan lebih dari sekadar pembangunan pembangkit. Diperlukan sistem kelistrikan yang mampu mengintegrasikan sumber energi tersebut.
Ketika sumber energi bergantung pada kondisi alam, maka pengelolaan sistem menjadi semakin kompleks. Diperlukan teknologi penyimpanan energi, sistem monitoring, manajemen beban, jaringan yang lebih fleksibel, serta kemampuan analisis data.
Di sinilah ilmu Teknik Elektro yang saya sendiri tekuni memiliki peranan besar.
Mahasiswa tidak hanya belajar bagaimana listrik dibangkitkan dan disalurkan, tetapi juga memiliki kesempatan untuk ikut memikirkan seperti apa sistem energi Indonesia di masa depan.
Peran Pemerintah dalam Menjaga Ketahanan Energi.
Teknologi yang baik membutuhkan ekosistem kebijakan yang mendukung. Inovasi yang dihasilkan mahasiswa membutuhkan ruang untuk dikembangkan. Industri membutuhkan regulasi dan kepastian. Masyarakat membutuhkan akses terhadap energi yang aman, andal, dan terjangkau.
Karena itu, ketahanan energi membutuhkan hubungan yang kuat antara pemerintah, industri, akademisi, dan masyarakat.
Lalu, Apa Peran Mahasiswa?
Pertanyaan inilah yang menurut saya menjadi inti dari keseluruhan diskusi. Di mana mahasiswa dalam perjalanan energi Indonesia?
Jawabannya tidak cukup hanya dengan mengatakan bahwa mahasiswa adalah “generasi penerus”.
Mahasiswa adalah bagian dari generasi yang sedang hidup di tengah proses transformasi tersebut. Mahasiswa Teknik Elektro dapat melakukan penelitian mengenai sistem tenaga dan energi terbarukan.Mahasiswa teknologi dapat mengembangkan sistem monitoring berbasis IoT.Mahasiswa ekonomi dapat melihat peluang bisnis dalam ekosistem energi.Mahasiswa sosial dan komunikasi dapat membangun literasi masyarakat mengenai penggunaan energi.Mahasiswa organisasi dapat menjadi ruang untuk membangun kesadaran dan gerakan kolektif.
Dengan kata lain, kontribusi mahasiswa tidak harus selalu berbentuk proyek besar.
Sebuah penelitian kecil, sebuah prototipe sederhana, sebuah gagasan kebijakan, sebuah program edukasi, atau bahkan sebuah diskusi yang menghasilkan kolaborasi dapat menjadi langkah awal.
Dari Hulu hingga Hilir, dari Kampus hingga Masyarakat.
Jika kita menarik benang merah dari seluruh pembahasan, ada sebuah gambaran yang menarik.
Energi bergerak dari hulu menuju hilir.
Pengetahuan juga seharusnya bergerak dari kampus menuju masyarakat. Jangan sampai ilmu pengetahuan hanya berhenti di ruang kelas, sebagaimana jangan sampai diskusi mengenai energi berhenti di ruang seminar.
Apa yang kita pelajari harus mampu diterjemahkan menjadi sesuatu yang memiliki manfaat.Sebab persoalan energi Indonesia terlalu besar untuk hanya dibebankan kepada pemerintah.Terlalu kompleks jika hanya diserahkan kepada industri. Dan terlalu penting jika hanya dibicarakan oleh para ahli.Mahasiswa harus mengambil bagian.
Menjadikan Diskusi sebagai Awal, Bukan Akhir.
Sebagai moderator dalam diskusi tersebut, saya melihat bahwa forum seperti ini memiliki nilai yang lebih besar daripada sekadar pertukaran gagasan.Ada sesuatu yang perlu dibawa pulang oleh setiap peserta.Bukan hanya catatan.Bukan hanya dokumentasi.Tetapi kesadaran
Kesadaran bahwa energi yang kita gunakan setiap hari memiliki perjalanan yang panjang.
Kesadaran bahwa transformasi digital sedang mengubah cara manusia mengelola energi.
Kesadaran bahwa energi terbarukan akan menjadi bagian penting dari masa depan.
Dan yang paling penting, kesadaran bahwa generasi mahasiswa hari ini memiliki kesempatan untuk menentukan seperti apa masa depan tersebut.
Menyalakan Masa Depan
Pada akhirnya, ketahanan energi bukan sekadar tentang berapa banyak energi yang mampu dihasilkan Indonesia. Ia juga berbicara tentang kemandirian, pemerataan, teknologi, manusia, dan keberlanjutan.
Dari BBM yang bergerak melalui rantai pasok dari hulu hingga hilir, listrik yang mengalir melalui sistem tenaga, hingga energi terbarukan yang sedang dikembangkan untuk masa depan—semuanya merupakan bagian dari cerita besar tentang bagaimana Indonesia memenuhi kebutuhan energinya.Transformasi tersebut membutuhkan kolaborasi.Akademisi menyediakan ilmu.Industri menghadirkan pengalaman dan implementasi.
Pemerintah menghadirkan kebijakan dan tata kelola.Dan mahasiswa?
Mahasiswa membawa keberanian untuk bertanya: “Apa yang bisa kita lakukan?”
Mungkin kita belum mampu mengubah sistem energi Indonesia hari ini.
Tetapi kita bisa mulai dengan belajar memahami sistem tersebut.
Kita bisa mulai dengan berdiskusi.
Kita bisa mulai dengan melakukan penelitian.
Kita bisa mulai dengan menciptakan inovasi. Dan yang paling penting, kita bisa mulai dengan menyadari bahwa masa depan energi Indonesia bukan hanya sesuatu yang akan kita warisi. Masa depan itu sedang kita bangun.Karena Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur tidak hanya membutuhkan energi yang cukup. Indonesia membutuhkan generasi yang mampu memastikan energi tersebut menjadi kekuatan bagi seluruh rakyat.
Salam Kasih
Ut Omnes Unum Sint
Shalom